CC
CardioCapital
Kembali ke Artikel
General

Mengapa Saya Memulai di Usia Hampir Lima Puluh

Tahun lalu, di usia empat puluh delapan, saya meninggalkan peran leadership dan pulang ke Yogyakarta. Sebuah catatan jujur tentang memulai lagi di usia hampir lima puluh: ketakutan yang sebenarnya, tubuh yang punya pendapatnya sendiri, dan kenapa pelan-pelan adalah strategi, bukan kelemahan.

15 Mei 2026

Menjelang lima puluh. Itu adalah usia yang tidak sedikit. Lima dekade, setengah abad.

Ada satu jenis hening yang menyelimuti perempuan yang mendekati lima puluh. Bukan hening kegagalan. Tapi hening dari ekspektasi yang perlahan mengatup, beginilah dirimu sekarang, ini yang kamu kerjakan, ini bentuk hidupmu, ini yang sudah kamu sepakati untuk dipertahankan.

Tahun lalu, saya memecahkan hening itu.

Usia saya empat puluh delapan ketika saya meninggalkan sebuah peran leadership di sebuah organisasi ternama yang saya jalani dengan penuh harapan. Namun baru lebih sedikit dari satu tahun, saya pulang, pulang ke Yogyakarta: ke suami, ke rumah kecil kami, ke ritme menjadi mandiri kembali, dengan kombinasi aneh: lega sekaligus disorientasi.

Harus saya akui bahwa saat itu saya lelah. Dengan cara yang tidak bisa saya namai. Ada dua dekade pengalaman konsultansi di belakang saya, gelar pendidikan tertinggi dari kampus ternama Eropa yang menghabiskan satu dekade dalam episode hidup saya. Berselingan antara Sumatera dan Belanda, dan jaringan profesional yang membentang di ASEAN. Tapi pada momen pulang itu, saya tidak merasa seperti praktisi senior. Saya merasa seperti seseorang yang berdiri di awal lagi, memegang paspor dengan stempel dua puluh tahun misi orang lain.

Lalu saya melakukan sesuatu yang sudah lama saya tunda.

Saya (kembali) mulai menulis untuk publik.

Saya mencoba meninggalkan jejak di bawah nama saya sendiri, dengan banyak pertanyaan tentang diri sendiri, tentang pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan yang saya ambil, tentang keberlanjutan, tentang pengetahuan masyarakat adat, dan persimpangan rumit antara konservasi dan kedaulatan pangan.

Dan saya mulai membangun rumah ini, Cardio Capital, untuk perempuan-perempuan empat puluh ke atas yang ingin tetap kuat, sehat, dan punya kata-kata mereka sendiri. Dan yang lebih penting, untuk diri saya sendiri.

Saya mulai aktif berlari lagi, meski tubuh perimenopause saya tidak lagi bekerja sama seperti dulu. Saya mulai membaca warisan Jawa saya dengan lebih serius: weton, filosofi karone padha madhangi jagad, "keduanya, bersama, menerangi dunia." Dan saya mulai membayangkan babak kedua bukan sebagai sesuatu yang saya jalani dengan setengah hati, tapi sebagai sesuatu yang saya pilih.

Dan inilah yang saya pelajari dalam bulan-bulan setelahnya.

Ketakutannya bukan apa yang kita kira

Sebelum loncatan ini, saya kira ketakutan paling besar adalah soal uang. Saya kira saya akan terjaga di malam hari menghitung fee konsultansi melawan biaya rumah tangga. Ketakutan itu nyata, tapi bukan yang paling keras. Yang paling keras justru lebih halus: ketakutan bahwa tidak ada yang menunggu apa yang ingin saya katakan. Bahwa pintu yang saya buka akan terbuka ke ruangan kosong.

Ternyata, dan ini bagian yang tidak ada yang memberitahu saya sebelumnya, kebanyakan ruangan memang mulai kosong. Kita belajar tetap menulis untuk ruangan itu. Kita belajar percaya bahwa seseorang sedang mendengarkan, bahkan sebelum data analytics mengkonfirmasinya.

Tubuh sekarang punya pendapatnya sendiri

Tidak ada yang memperingatkan saya betapa nyaringnya tubuh akan bersuara di usia ini. Hot flash di tengah lari pagi. Tidur yang menolak utuh sampai pagi. Berat badan yang tidak lagi mematuhi aturan masa tiga puluhan. Sendi yang protes setelah sesi leg day di gym. Tubuh menjadi co-author, penulis kedua dari setiap keputusan saya. Ia tidak akan membiarkan saya berpura-pura ia tidak ada di sana.

Saya berhenti melawannya. Sebagai gantinya, saya mulai mendengarkan. Sebagian besar keputusan yang lebih baik dalam setahun terakhir justru datang dari mendengarkan kelelahan, dari memperhatikan pola pemulihan, dari mengenali apa yang memberi saya energi dan apa yang menghisapnya pelan-pelan. Tubuh, ternyata, punya pendapat yang jauh lebih jernih dibandingkan dengan program dari coach profesional mana pun atau program AI terkini apa pun. Tubuh juga sangat cerdas dalam memilah dan memilih tentang pekerjaan mana yang sebaiknya diambil dan mana yang sebaiknya ditolak.

Ia lebih jujur dari kalender saya.

Inilah yang ingin saya bawa ke pilar Physical Resilience di Cardio Capital. Bukan transformasi dramatis. Bukan tubuh muda lagi. Tapi tubuh yang didengarkan, dilatih dengan rasa hormat, dan diberi ruang untuk menua dengan kekuatan.

Pengalaman tidak menyelamatkan kita. Tapi juga tidak mengkhianati kita

Dua puluh tahun bekerja dengan lembaga-lembaga lokal, nasional, regional, dan internasional, tubuh kerja itu tidak menguap ketika kita berhenti memiliki jabatan organisasi di bawah nama kita. Ia tetap compound diam-diam, di latar belakang, menunggu momen ketika kita memanggilnya. Gelar doktor yang memakan satu dekade tidak menjadi tidak relevan saat saya meninggalkan dunia akademik.

Ia menjadi tulang punggung dari otoritas yang berbeda, lebih lambat, kurang institusional, lebih personal.

Yang tidak bisa dilakukan oleh pengalaman adalah memilih untuk kita. Ia tidak bisa memberitahu kita apakah harus melamar posisi di organisasi A atau menulis newsletter. Ia tidak bisa memberitahu kita apakah harus memimpin institusi orang lain atau membangun di atas nama kita sendiri. Keputusan-keputusan itu adalah keputusan kita, dibuat dalam gelap, dibuat dengan insting, dibuat, di usia hampir lima puluh, dengan kebijaksanaan rapuh apa pun yang sudah diberikan oleh pembelajaran-pembelajaran yang terakumulasi.

Inilah yang ingin saya bawa ke pilar Strategic Resilience. Bukan kisah sukses linear. Tapi pelajaran dari keputusan-keputusan yang berani, yang mahal, dan yang membentuk kita pelan-pelan.

Kita akan disalahpahami. Biarkan saja

Tidak ada cara yang elegan untuk menjelaskan kepada orang lain mengapa kita memulai sesuatu di usia hampir lima puluh. Selalu akan ada yang membacanya sebagai krisis paruh baya. Ada yang akan mengira kita gagal di jalan konvensional. Ada yang akan diam-diam khawatir untuk kita. Ada, dan ini bagian yang menyakitkan, yang akan menutup pintunya karena pertumbuhan kita membuat mereka tidak nyaman dengan diam mereka. Kita tidak akan bisa menerjemahkan diri kepada semua orang. Kita tidak akan bisa membuat orang-orang yang tidak melihat kita, melihat kita. Itu bukan kegagalan komunikasi. Itu adalah struktur dari transisi yang sesungguhnya.

Pekerjaannya adalah pekerjaan itu sendiri

Versi romantis dari reinvention mengatakan bahwa kita akan menemukan panggilan sejati dan semuanya akan klop. Versi jujurnya: pekerjaannya adalah pekerjaan itu sendiri. Ada pagi-pagi ketika saya duduk untuk menulis dan tidak ada yang keluar. Ada proposal yang butuh tiga draf dan tetap ditolak. Ada grant call yang tutup sebelum saya siap, donor yang tidak pernah membalas, konferensi yang lewat begitu saja. Ada lembaga yang belum siap dengan prasarana dan sarana, dan banyaknya tubuh esai yang mungkin butuh bertahun-tahun untuk menemukan pembacanya.

Reinvention bukan satu tindakan berani. Ia adalah ribuan tindakan kecil untuk kembali ke meja, kembali ke desa, kembali ke pertanyaan, jauh setelah antusiasme awal sudah pudar.

Health compounds. Wealth compounds. We compound

Yang ingin saya bawa ke Cardio Capital, dan yang menjadi inti dari ketiga pilarnya, adalah keyakinan ini: pertumbuhan yang paling nyata datang dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang, jujur, pelan-pelan. Bukan dari momen besar yang viral, atau dari transformasi dramatis yang difoto sebelum-sesudah.

Lari tiga kilometer hari ini, lima kilometer bulan depan, sepuluh kilometer tahun depan, half-marathon tahun depannya lagi. Satu artikel ini, lalu yang berikutnya, lalu yang berikutnya. Satu percakapan jujur dengan tubuh sendiri, lalu satu lagi, lalu satu lagi. Compound interest dari kesehatan, dari karir, dari hubungan, dari diri kita sendiri.

Itulah pilar Communal Resilience yang ingin saya bangun bersama kalian. Bukan hanya tentang individu yang kuat, tapi tentang perempuan-perempuan empat puluh tahun ke atas yang saling menopang, saling mengingatkan, saling membuktikan bahwa pelan-pelan adalah strategi, bukan kelemahan.

Ceritanya belum selesai

Saya menulis ini dengan proposal grant yang setengah jadi terbuka di tab lain, sebuah reactivation lain yang dalam proses menanam, website yang masih draf, suami yang juga sedang merancang reinvention paruh bayanya sendiri di samping saya, dan tubuh yang butuh lebih banyak pemulihan dari biasanya. Tidak ada yang sudah selesai. Tidak ada yang mengkilap.

Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, hidup yang saya bangun terasa seperti milik saya. Bukan pinjaman dari institusi. Bukan susunan dari ekspektasi orang lain tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh perempuan Jawa dengan gelar doktor di usia ini.

Hanya milik saya. Tenang. Spesifik. Pelan. Ditopang oleh tiga pilar: tubuh yang dilatih, strategi yang dipikirkan jernih, komunitas yang sungguh-sungguh, yang saya sedang belajar percaya akan cukup.

Jika kamu juga sedang memulai sesuatu di usia hampir empat puluh, lima puluh, atau di usia berapa pun yang dunia diam-diam katakan terlalu terlambat, saya berharap tulisan ini menemukanmu dengan cara yang saya butuhkan dua tahun lalu, ketika saya membutuhkan seseorang untuk mengucapkannya lebih dulu.

Selamat datang di Cardio Capital. Kita mulai dari tempat kita sekarang. Health compounds. Wealth compounds. You compound.

Suka artikel ini?

Subscribe newsletter. Saya kirim setiap artikel baru langsung ke email kamu, biasanya bersamaan dengan video YouTube terkait.

Double opt-in: kamu akan dapat email konfirmasi dulu. Gratis, tanpa spam, berhenti kapan saja.