Mulai di Usia yang 'Salah'
Bulan Mei ini, beberapa tahun yang lalu, saya lulus doktor di usia yang dunia bilang sudah terlambat. Tentang fieldwork sendirian, compound effect dari proses yang tidak ada shortcut-nya, dan kenapa tidak ada usia yang salah untuk investasi yang benar.
Bulan Mei ini, beberapa tahun yang lalu, aku lulus doktor.
Bukan di usia dua puluhan. Bukan bahkan di usia tiga puluhan. Aku memulai program doktoral di usia yang, menurut banyak orang, sudah terlalu tua untuk memulai apa pun selain menikmati hasil kerja sebelumnya. Aku sudah bekerja. Sudah mapan. Sudah punya kehidupan. Mengapa mulai lagi dari nol?
Tapi bulan ini, ketika aku menengok ke belakang, aku tidak melihat keputusan yang terlambat. Aku melihat investasi yang compound-nya baru mulai terasa.
Fieldwork
Proses doktoralku bukan jenis yang bisa dikerjakan dari perpustakaan. Aku harus tinggal di lapangan berbulan-bulan, lebih dari dua puluh satu bulan total. Di tempat yang jauh dari kota. Jauh dari keluarga. Jauh dari kenyamanan apa pun yang biasa aku kenal.
Aku tidur di tempat yang tidak ada sinyal telepon. Aku makan apa yang tersedia. Aku berjalan berjam-jam untuk mencapai komunitas yang aku teliti. Aku merekam data, satu demi satu, hari demi hari, selama berbulan-bulan.
Tidak ada yang glamor. Tidak ada posting Instagram dari "field research." Hanya kerja, konsistensi, dan tekad yang kadang-kadang aku sendiri tidak tahu dari mana asalnya.
Itu Zone 2 yang paling murni yang pernah aku jalani.
Perempuan Sendirian di Lapangan
Ada sebuah buku klasik dalam bidang antropologi. Kumpulan tulisan perempuan-perempuan peneliti yang bekerja sendirian di budaya yang bukan milik mereka. Mereka menulis tentang apa artinya menjadi perempuan asing yang datang ke komunitas orang lain, sendirian, tanpa perlindungan institusi yang nyata, tanpa privilege yang biasanya dimiliki rekan laki-laki mereka. Mereka bernegosiasi setiap hari: bukan hanya dengan data, tetapi juga dengan kepercayaan, prasangka, kesepian, dan rasa takut.
Aku membaca buku itu sebelum berangkat ke lapangan. Dan ketika aku sampai di sana, aku memahami setiap halamannya dengan tubuh, bukan hanya dengan kepala.
Menjadi perempuan sendirian di lapangan berarti kamu harus membuktikan diri dua kali. Sekali untuk kompetensimu. Sekali lagi untuk keberanianmu. Orang bertanya: "Mengapa kamu di sini? Mengapa tidak suamimu yang datang? Mengapa perempuan melakukan ini?" Dan kamu harus menjawab bukan dengan kata-kata, melainkan dengan konsistensi kehadiranmu. Hari demi hari. Minggu demi minggu. Bulan demi bulan. Sampai pertanyaan-pertanyaan itu berhenti. Sampai mereka melihatmu bukan sebagai perempuan asing, melainkan sebagai seseorang yang sungguh-sungguh ada di sana.
Ada malam-malam ketika aku sendirian di tempat yang sangat terpencil, dan satu-satunya hal yang menghalangi aku dari keinginan untuk pulang adalah pertanyaan sederhana: kalau aku berhenti sekarang, siapa yang akan menyelesaikan ini?
Tidak ada yang akan. Jadi aku tetap di sana.
Dan dalam ketidaknyamanan itu, dalam kesepian, dalam kelelahan, dalam makan seadanya dan tidur seadanya, terjadi sesuatu yang tidak pernah aku duga. Aku menemukan bagian dari diriku yang tidak pernah aku ketahui ada. Bagian yang lebih kuat daripada yang aku kira. Lebih sabar. Lebih tangguh. Lebih mampu mendengarkan.
Fieldwork tidak hanya mengubah penelitianku. Fieldwork mengubah aku.
Yang Mereka Tidak Bilang tentang "Terlalu Tua"
Ketika kamu memulai sesuatu di usia yang dianggap "salah", ada suara-suara. Dari luar, dari dalam. Yang bilang kamu sudah ketinggalan. Yang bilang orang lain sudah lebih dulu. Yang bilang waktumu sudah lewat.
Tapi yang disuarakan itu tidak bilang ini: ketika kamu memulai sesuatu di usia yang lebih matang, kamu membawa sesuatu yang tidak dimiliki versi mudamu. Pengalaman. Kedalaman. Kemampuan membaca situasi yang hanya didapat dari pengalaman di lapangan. Ketahanan yang sudah diuji oleh hidup, bukan hanya oleh deadline tugas.
Aku tidak memulai doktoral sebagai mahasiswa muda yang sedang mencari identitas. Aku memulainya sebagai profesional dengan hampir dua dekade pengalaman yang tahu persis pertanyaan apa yang ingin dijawab. Dan karena itu, setiap data yang aku kumpulkan memiliki bobot yang berbeda-beda. Setiap wawancara memiliki kedalaman yang berbeda. Setiap analisis punya konteks yang berbeda.
Usia bukan kelemahan. Usia adalah lensa.
Proses yang Tidak Ada Shortcut-nya
Doktoral mengajarkanku sesuatu yang sangat sederhana tapi sangat sulit dipraktikkan: tidak ada jalan pintas untuk membangun sesuatu yang bermakna.
Kamu tidak bisa mempercepat riset. Kamu tidak bisa membeli kedalaman. Kamu tidak bisa membayar orang lain untuk duduk berbulan-bulan bersama komunitas yang kamu pelajari. Kamu harus ada di sana. Kamu harus hadir. Kamu harus sabar.
Ribuan data. Ratusan catatan. Puluhan draft yang ditulis ulang. Revisi dari pembimbing yang kadang membuatmu ingin berhenti. Dan kamu tidak berhenti. Bukan karena kamu tidak capek. Tapi kamu tahu bahwa setiap langkah kecil itu sedang menumpuk.
Compound.
Defense
Hari defense datang. Kamu berdiri di depan panel profesor yang sudah membaca setiap kata yang kamu tulis selama bertahun-tahun. Kamu menjawab pertanyaan mereka. Kamu mempertahankan argumenmu. Dan ketika mereka mengucapkan selamat, ada momen singkat ketika semua langkah kecil itu tiba-tiba menyatu menjadi satu bangunan yang utuh.
Bukan momen kemenangan yang ramai. Lebih seperti menghembuskan napas panjang setelah berlari jauh. Kamu tidak berteriak. Kamu hanya tahu: aku sampai.
Untuk Kamu yang Masih Bertanya
Kalau kamu sedang mempertimbangkan untuk memulai sesuatu, sekolah lagi, karir baru, bisnis, menulis, apapun, dan suara-suara itu bilang kamu sudah terlalu tua:
Abaikan.
Bukan karena usia tidak penting. Tapi karena apa yang kamu bangun di usia ini punya fondasi yang tidak dimiliki orang yang memulai terlalu dini. Kamu tahu siapa dirimu. Kamu tahu apa yang kamu cari. Kamu tidak lagi membuktikan sesuatu kepada dunia. Kamu membuktikan sesuatu kepada dirimu sendiri.
Dan kalau kamu seorang perempuan, kalau kamu tahu rasanya harus membuktikan diri dua kali, menavigasi dunia yang tidak dirancang untukmu, dan bekerja lebih keras untuk dianggap setara, maka kamu sudah punya bekal yang paling penting untuk perjalanan ini: ketangguhan yang sudah teruji.
Gunakan itu. Itu bukan kelemahan. Itu adalah superpower-mu.
Mei
Setiap bulan Mei, aku teringat momen itu. Bukan gelarnya. Bukan upacara wisudanya. Tapi keputusan untuk memulai. Keputusan untuk bertahan. Keberanian untuk pergi sendirian ke tempat yang jauh. Dan keyakinan bahwa proses yang pelan-pelan, yang tidak ada shortcut-nya, yang tidak ada tepuk tangan, itu layak dijalani.
PhD-ku bukan tentang menjadi "Dr." PhD-ku adalah bukti bahwa compound effect itu nyata. Bahwa investasi yang dimulai di usia yang "salah" bisa menghasilkan sesuatu yang tidak akan pernah ada kalau aku mendengarkan suara-suara itu. Bahwa seorang perempuan sendirian di lapangan, capek, jauh dari rumah, tidak yakin apakah ini akan berhasil, apakah dia bisa menyelesaikan apa yang dia mulai.
Jadi kalau bulan ini kamu sedang memulai sesuatu, atau sedang mempertimbangkan untuk memulai, ingat ini:
Tidak ada usia yang salah untuk investasi yang benar.
Dan tidak ada perjalanan yang terlalu jauh bagi perempuan yang sudah memutuskan untuk berjalan.
Health compounds. Wealth compounds. Knowledge compounds. You compound.
Cardio Capital. Untuk perempuan yang membangun di usia yang kata orang sudah terlambat.
Suka artikel ini?
Subscribe newsletter. Saya kirim setiap artikel baru langsung ke email kamu, biasanya bersamaan dengan video YouTube terkait.
Double opt-in: kamu akan dapat email konfirmasi dulu. Gratis, tanpa spam, berhenti kapan saja.