Maybank Marathon
Untuk Perempuan Biasa 40+ yang Sedang Mempersiapkan 10K. Sebuah surat untuk diri sendiri di bulan Juni, tentang race 10K kesekian kali di Maybank Marathon Bali 23 Agustus 2026, setelah usia hampir lima puluh.

Di kalender aku ada tanggal yang dilingkari: 23 Agustus 2026.
Hari Minggu. Pagi-pagi sekali. Bali United Training Center, Sukawati. Jam 05:30 WITA, flag-off 10K di Maybank Marathon Bali.
Sekitar tiga belas minggu lagi.
Aku menulis ini di awal Juni, persis setelah selesai empat minggu pertama dari program latihan enam belas minggu. Akhir minggu kemarin, di sebuah area perdesaan sebelah barat Yogyakarta, aku menyelesaikan 5,6 kilometer dalam satu jam satu menit. Detak jantung rata-rata 146. Pace 11 menit 47 detik per kilometer.
Tidak ada PR baru. Tidak ada angka yang spektakuler. Hanya aku, dan tubuh yang sedikit lebih efisien dari kemarin.
Tapi di awal Mei, aku berdiri di garis start yang berbeda. Garis yang lebih jujur.
Apa yang sebenarnya aku hadapi
Awal Mei, aku duduk dengan data dari jam tangan COROS-ku, hasil tes lari yang baru saja aku jalani. Yang aku temukan tidak nyaman.
Pace 5K-ku, untuk lari santai, sebenarnya tidak buruk: 11 menit per kilometer. Tapi ada satu angka yang membuat aku berhenti.
72%.
Tujuh puluh dua persen dari waktu lariku, detak jantung aku berada di atas 154 bpm. Di zona yang oleh ilmu olahraga disebut anaerobic. Zona yang seharusnya hanya dikunjungi sesekali, untuk sesi high-intensity. Bukan untuk lari biasa.
Artinya: kakiku bisa berlari di pace itu. Tapi jantung dan paru-paruku membayar harga yang mahal. Sistem aerobic-ku, yang seharusnya jadi base dari semua jenis endurance, belum cukup matang.
Dalam bahasa sederhana, dari pelatihku: kakimu lebih kuat dari napasmu.
Ini bukan kegagalan. Ini diagnosis. Dan diagnosis itu adalah awal dari segalanya.
Kenapa 10K, kenapa di usia hampir lima puluh
Ada beberapa cara untuk merayakan ulang tahun ke-lima puluh.
Aku memilih untuk berlari sepuluh kilometer di Bali, di matahari yang panas, di rute yang naik turun, bersama ribuan pelari lain yang sebagian besar lebih muda dari aku.
Kenapa?
Bukan karena aku pernah jadi atlet. Bukan karena aku merasa muda. Bukan karena aku ingin membuktikan sesuatu ke siapapun.
Karena di usia ini, aku mulai mengerti bahwa banyak hal yang dulu aku kira penting, ternyata tidak. Dan banyak hal yang dulu aku anggap remeh, ternyata sangat penting.
Tubuh adalah salah satunya.
Aku menghabiskan dua puluh lima tahun pertama karirku merawat deliverables. Merawat deadline. Merawat orang lain. Tubuhku selama itu menunggu di belakang antrian.
Lalu di awal empat puluhan, tubuhku mulai berbicara lebih keras. Tidur yang berubah. Hot flash sesekali. Energi yang naik turun seperti pasar saham. Berat badan yang menempel di tempat-tempat baru. Otot yang mulai pelan-pelan menghilang kalau tidak diundang untuk bekerja.
Perimenopause adalah kata yang dulu aku pikir terlalu jauh untuk dipikirkan. Sekarang dia duduk di kursi sebelah aku setiap pagi.
Maybank 10K bukan tentang catatan waktu yang akan aku posting di Instagram. Itu adalah surat dari aku, ke tubuhku, yang isinya: kita masih punya banyak waktu bersama, dan aku ingin merawatmu lebih baik mulai sekarang.
Rencana yang sebenarnya aku jalani
Tiga belas minggu adalah waktu yang panjang. Dan waktu yang singkat. Tergantung dari sisi mana kamu melihatnya.
Di atas kertas, rencananya terlihat sederhana:
Phase 1: base building. Lari pelan-pelan, bangun aerobic foundation. Empat minggu.
Phase 2: tambahkan quality session. Tempo runs. Cycling intervals di sepeda statis untuk membangun VO2max tanpa membebani kaki. Empat minggu lagi.
Phase 3: race-specific sharpening. Latihan di pace race. Long run terpanjang. Empat minggu lagi.
Phase 4: taper. Mengurangi volume, mengasah kebugaran, lalu race day. Empat minggu terakhir.
Tapi rencana di atas kertas selalu lebih rapi dari kenyataan.
Kenyataannya, ada minggu di mana aku kehilangan dua sesi karena pekerjaan. Ada minggu di mana aku merasa luar biasa kuat. Ada hari di mana aku bangun dengan detak jantung istirahat naik 6 bpm dan aku tahu hari itu lebih baik untuk berjalan kaki saja. Ada time trial yang aku kerjakan persis di hari pertama haid, karena jadwal tidak bisa digeser dan tubuh harus diakomodasi.
Ada Senin dan Kamis, dua hari dalam seminggu, di mana aku menjalani ngrowot, puasa parsial tanpa nasi. Cara tradisional Jawa untuk membersihkan tubuh dan pikiran. Bagaimana mengakomodasi strength training dengan glycogen yang sengaja aku kosongkan? Tidak ada bukunya. Aku menulis bab itu sendiri, sambil aku jalani.
Untuk siapa aku menulis ini
Ada cukup banyak konten tentang persiapan race di internet. Tapi hampir semuanya:
Ditulis dalam Bahasa Inggris. Ditulis oleh pelari elite atau setidaknya pelari yang sudah lama jam terbangnya. Atau diperuntukkan pelari cepat, pelari kalcer yang ngejar PB di setiap larinya dan mempunyai alasan untuk posting tiap saat di Instagram. Diasumsikan kamu lari di iklim sedang, bukan tropis 28 sampai 32 derajat. Diasumsikan kamu tidak sedang melewati perimenopause. Diasumsikan kamu punya waktu, recovery capacity, dan sistem hormonal yang stabil seperti pria umur tiga puluh. Diasumsikan kamu selalu mempunyai hari yang sempurna untuk memulai latihan dan mengejar PB setiap saat.
Aku bukan satu pun dari semua itu.
Aku perempuan empat puluh sembilan tahun, tinggal di Yogyakarta, sedang perimenopause, baru kembali ke latihan endurance setelah jeda yang lama, dan sedang mencoba kembali remidial sepuluh kilometer di Bali yang panas.
Aku yakin ada banyak perempuan seperti aku yang sedang mencoba sesuatu yang serupa, dan tidak menemukan suara yang familiar di mana-mana.
Jadi aku menulis ini untuk kalian. Dan untuk diriku sendiri tiga belas minggu lagi, di garis finis Bali, untuk mengingatkan bagaimana semua ini dimulai.
Apa yang akan kamu temukan di serial ini
Dari sekarang sampai akhir Agustus, aku akan menulis tentang perjalanan ini. Jujur, apa adanya, sambil aku jalani.
Bukan motivational content. Bukan transformasi sembilan puluh hari. Bukan "lihat aku sekarang."
Yang akan aku tulis adalah hal-hal seperti ini:
Bagaimana rasanya menemukan bahwa kakiku lebih kuat dari napasku, dan apa artinya itu untuk hidup di luar lari.
Bagaimana aku menegosiasikan ngrowot dengan latihan, dan apa yang aku pelajari tentang menghargai praktik tradisional sambil tidak mengabaikan sains modern.
Apa yang terjadi ketika personal trainer aku menaikkan beban tanpa tahu aku ada time trial tiga hari lagi, dan pelajaran tentang berbagi konteks dengan orang-orang yang bekerja sama dengan kita.
Apa yang time trial di Kulon Progo pagi-pagi sekali, di suhu 27 derajat dengan kelembapan 72 persen, ajarkan aku tentang data yang berbohong dan data yang jujur.
Bagaimana aku akan menjalani 5K di Borobudur tanggal 5 Juli, bersama keponakanku yang baru pertama kali ikut race. Tentang pelajaran mentorship lintas generasi, dan kapan harus mundur memberi ruang.
Apa yang akan aku rasakan di kilometer ke-delapan, ketika kaki sudah berat tapi garis finis masih dua kilometer lagi.
Dan akhirnya, mudah-mudahan, aku akan menulis dari Bali. Tentang apa yang sebenarnya aku kejar di garis finis.
Kepada diri sendiri di bulan Agustus
Kalau kamu, versi diri sendiri di bulan Agustus, sedang membaca ini setelah selesai 10K-mu, aku ingin kamu ingat sesuatu.
Bukan waktu yang penting. Bukan apakah kamu finish 1:45, 1:50, 1:55, atau 2:00.
Yang penting adalah perempuan yang berdiri di garis finis itu adalah versi yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih sabar dari versi yang menulis surat ini di bulan Mei.
Yang penting adalah selama enam belas minggu kamu mendengarkan tubuhmu. Mengakomodasi haid. Mengakomodasi ngrowot. Mengakomodasi panas tropis. Mengakomodasi zoom meeting yang tiba-tiba muncul di kalender. Dan kamu tetap hadir untuk berlatih.
Yang penting adalah kamu membangun base yang akan kamu bawa pulang ke Yogyakarta. Base yang akan terus compound setelah pita finis dipotong. Mitokondria yang sudah kamu bangun. Pembuluh darah kapiler yang sudah kamu rajut. Kebiasaan yang sudah kamu tanam.
Pita finis adalah perayaan. Bukan tujuan.
Tujuan sebenarnya adalah versi diri sendiri yang muncul setiap pagi, dalam keadaan apapun, untuk merawat tubuh ini.
Dan itu, kamu sudah lakukan setiap hari selama enam belas minggu.
Sampai jumpa di Bali, di garis finis.
Atau lebih tepatnya: sampai jumpa di banyak pagi di antara sekarang dan Bali. Di banyak long run, tempo, dan walk-day. Karena di situlah perjalanan yang sebenarnya terjadi.
Health compounds. Wealth compounds. You compound.
Cardio Capital. Untuk perempuan yang membangun sambil berlari pelan.
Artikel terkait
- Physical15 Juni 2026
Recovery Bukan Istirahat
Mengapa perempuan 40+ perlu strategi pemulihan yang serius. Yang terjadi di antara dua sesi latihan sama pentingnya dengan latihannya sendiri.
Baca - Physical13 Juni 2026
Makan untuk Berlatih
Panduan nutrisi perempuan 40+ yang sedang persiapan race. Bukan diet. Bukan cutting. Ini tentang makan cukup untuk bisa bekerja keras.
Baca - Physical11 Juni 2026
Latihan Beban Sebelum Race
Kenapa Perempuan 40+ Tidak Bisa Hanya Lari. Catatan dari program latihan nyata, bukan teori.
Baca
Suka artikel ini?
Subscribe newsletter. Saya kirim setiap artikel baru langsung ke email kamu. Mingguan, tanpa spam.
Double opt-in: kamu akan dapat email konfirmasi dulu. Gratis, tanpa spam, berhenti kapan saja.