Ngrowot dan Kekerabatan
Tentang tradisi spiritual yang aku pause selama seminggu, karena ponakanku datang dari luar kota. Catatan kecil tentang kebijakan menahan diri untuk yang lebih besar.
Minggu lalu ngrowot-ku terganggu. Bukan karena aku gagal disiplin. Tapi karena ponakanku, datang dari luar kota untuk tes masuk SMA negeri di Yogya.
Selama seminggu dia tinggal di rumah, kami makan bersama setiap pagi dan setiap malam. Dia anak SMP, baru selesai ujian kelulusan, baru pertama kali tinggal di rumah bude-nya tanpa orangtua. Hari-harinya terisi tes-tes seleksi dan harapan untuk masuk sekolah idaman.
Setiap pagi sebelum dia berangkat tes, aku masak nasi untuknya. Dengan lauk-pauk yang dia suka. Telur dadar dengan banyak daun bawang. Tempe goreng yang kering. Sayur asem yang ringan. Sambal yang tidak terlalu pedas karena dia tidak suka.
Setiap malam setelah dia pulang dari tes, kami makan bersama lagi. Mendengar ceritanya tentang pertanyaan apa saja yang muncul, anak-anak lain yang dia temui, kantin sekolah-sekolah yang dia tes-i.
Selama seminggu itu, aku tidak ngrowot.
Apa yang sebenarnya ngrowot itu
Untuk pembaca yang belum kenal: ngrowot adalah praktik tradisional Jawa di mana pelakunya, dua kali seminggu (biasanya Senin dan Kamis), tidak makan nasi. Hanya umbi-umbian: singkong, ubi, jagung rebus, kentang. Sumber karbohidrat yang lebih sederhana, sumber spiritual yang lebih dalam.
Aku menjalani ngrowot selama beberapa tahun. Bukan karena diet. Bukan karena trend. Tapi karena tradisi, dan karena aku merasakan manfaatnya: secara fisik (pencernaan yang lebih tenang, fokus yang lebih jernih), secara spiritual (eling lan waspada, kesadaran terhadap apa yang masuk ke tubuh).
Tapi selama ponakan di sini, aku tidak menjalankannya.
Karena ngrowot, di rumah yang kebetulan punya tamu anak SMP yang sedang melalui momen penting hidupnya, akan mengganggu. Dia akan bertanya kenapa budenya tidak makan nasi. Dia akan merasa makan sendirian. Aku akan kelihatan "berbeda" di hari yang seharusnya menjadi hari biasa bersama.
Untuk seorang anak SMP yang sedang grogi sebelum tes, hal-hal kecil seperti bude yang makan biasa atau tidak biasa bisa terasa lebih besar dari yang kita bayangkan.
Jadi aku makan nasi. Bersama dia. Setiap hari selama seminggu.
Apakah ini melanggar tradisi?
Pertanyaan ini sempat melintas di kepalaku. Apakah aku melanggar disiplin spiritualku?
Lalu aku ingat sesuatu yang ibuku dulu pernah bilang, tentang tradisi-tradisi yang kami jalani sebagai keluarga.
"Tradisi yang sehat tahu kapan dia harus mengalah," katanya. "Yang tidak boleh mengalah hanya prinsip. Tradisi adalah bentuk eksternal dari prinsip. Bentuknya bisa fleksibel selama prinsipnya terjaga."
Apa prinsip di balik ngrowot? Eling lan waspada. Kesadaran. Pembatasan yang menumbuhkan disiplin. Pengakuan bahwa tidak semua yang kita inginkan harus kita konsumsi.
Apakah aku bisa menjaga prinsip-prinsip itu sambil makan nasi bersama ponakan selama seminggu? Ternyata bisa. Aku tetap eling. Aku tetap waspada. Aku tetap memilih makan dengan kesadaran. Aku hanya tidak mempraktikkan bentuk eksternal ngrowot selama seminggu itu.
Prinsipnya terjaga. Bentuknya yang fleksibel.
Yang tradisi lain ajarkan tentang ini
Aku mulai sadar bahwa banyak tradisi spiritual di dunia ternyata punya kebijaksanaan serupa.
Dalam Islam, puasa Ramadhan punya beberapa kondisi yang membatalkan kewajiban: sakit, perjalanan jauh, kehamilan, menyusui. Bukan karena puasa tidak penting. Tapi karena ada peristiwa hidup yang lebih besar, di mana puasa harus mengalah.
Dalam Buddhism, ada prinsip middle way: bahwa ekstrem apapun, termasuk ekstrem spiritual yang terlalu kaku, harus dihindari. Buddha sendiri, sebelum mencapai pencerahan, menyadari bahwa puasa berkepanjangan ekstrem justru menjauhkannya dari wisdom.
Dalam tradisi Jawa sendiri, ada konsep trep: kepatutan, kepekaan terhadap situasi. Sebuah tindakan bisa benar di satu konteks dan tidak trep di konteks lain. Kebijaksanaan adalah tahu bedanya.
Semua tradisi besar tampaknya setuju: yang penting prinsip, bukan formalitas. Yang penting kasih sayang, bukan kekakuan. Yang penting bahwa tradisi melayani manusia, bukan manusia yang menjadi budak tradisi.
Ponakan sebagai pengingat
Sebelum ponakan datang, aku sebenarnya sempat berpikir untuk "tetap ngrowot diam-diam." Mungkin makan nasi pas dia melihat, tapi tidak makan nasi pas dia tidak melihat. Mempertahankan praktik tanpa mengganggu dia.
Tapi semakin aku pikirkan, semakin aku sadar: itu setengah-setengah. Itu bukan tradisi yang dewasa. Itu sekedar performance, yang justru kehilangan inti dari ngrowot, yaitu integritas antara dalam dan luar.
Lebih baik aku pause sepenuhnya untuk seminggu, dengan kesadaran penuh dan kebahagiaan menyertai ponakanku, daripada setengah-setengah dengan diam-diam.
Dan ternyata, keputusan itu memberi aku sesuatu yang tidak terduga: aku menjadi lebih hadir untuk ponakan. Tidak ada bagian dari diriku yang sedang menahan diri. Tidak ada percakapan internal tentang "kapan dia tidur supaya aku bisa kembali ke pola ngrowot." Tidak ada split attention antara praktik dan kehadiran.
Aku makan nasi. Aku ada di meja makan. Aku mendengarkan ceritanya tentang tes. Aku menjawab pertanyaan-pertanyaannya tentang Yogya. Aku menyaksikan dia bertumbuh selama seminggu itu, anak SMP yang gelisah pada hari pertama tes, anak SMP yang lebih percaya diri pada hari berikutnya.
Pengalaman itu, ternyata, adalah bentuk laku tirakat yang lain. Laku tirakat untuk menjadi bude yang hadir. Yang prinsip-prinsipnya tidak hilang, tapi yang bentuk-bentuknya fleksibel sesuai apa yang diminta oleh momen.
Yang aku bawa pulang
Seminggu setelah ponakan pulang ke kotanya, aku kembali ke ritme ngrowot Senin dan Kamis.
Pemulihan kembali ke pola itu terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih bermakna. Karena aku tahu, sekarang, bahwa pola itu bukan penjara. Dia adalah pilihan yang aku ambil, dan yang bisa aku tunda kalau ada kasih sayang yang harus dipraktikkan dengan cara yang berbeda.
Tradisi yang sehat, ternyata, justru tradisi yang punya ruang untuk berhenti sebentar. Yang tidak akan rusak hanya karena seminggu di-pause. Yang justru semakin kuat karena pernah dilepaskan dan dipilih kembali.
Aku berpikir tentang ini dalam konteks yang lebih luas. Berapa banyak hal dalam hidupku yang aku jalani sebagai kekakuan, padahal seharusnya sebagai pilihan?
Berapa banyak rutinitas yang aku pertahankan dengan disiplin, padahal di momen tertentu seharusnya bisa di-pause untuk hal yang lebih penting?
Berapa banyak prinsip yang aku jaga dengan kaku, padahal yang penting bukan kaku-nya melainkan prinsipnya sendiri?
Latihan untuk Maybank ini, secara tidak langsung, mengajarkan aku bahwa kebijaksanaan adalah tahu kapan harus konsisten dan kapan harus fleksibel. Bukan salah satu saja. Keduanya, sesuai konteks.
Untuk kamu yang juga punya tradisi yang kamu jaga
Kalau kamu juga punya praktik spiritual, kebiasaan, atau ritual yang kamu jaga, entah itu puasa, meditasi, olahraga harian, journal pagi, atau apapun, kamu mungkin pernah berada di situasi yang sama dengan aku.
Ada momen di mana kasih sayang meminta kamu untuk mem-pause-nya sejenak.
Ada momen di mana kehadiran untuk orang lain harus mengalahkan kepuasan menjalani ritual untuk diri sendiri.
Ada momen di mana bentuk eksternal tradisi harus dilonggarkan supaya prinsip yang lebih dalam, prinsip kasih sayang, kehadiran, atau melayani, bisa terjaga.
Pause tidak sama dengan kegagalan. Tunda tidak sama dengan menyerah. Kelonggaran tidak sama dengan kompromi.
Tradisi yang dewasa adalah tradisi yang bisa pause dengan tenang, lalu kembali dengan utuh.
Sama seperti pelari yang berjalan kaki di tanjakan, lalu kembali berlari di tanah datar, itu bukan kegagalan lari. Itu cara untuk menyelesaikan lari dengan bijak.
Begitu juga denganmu.
Health compounds. Wealth compounds. You compound.
Cardio Capital. Untuk perempuan yang membangun sambil berlari pelan.
Artikel terkait
- Communal8 Juni 2026
Tim di Balik Lariku
Tentang kerendahan hati untuk meminta bantuan, dan kenapa lari sepuluh kilometer ternyata tidak pernah benar-benar dilakukan sendirian.
Baca - Physical15 Juni 2026
Recovery Bukan Istirahat
Mengapa perempuan 40+ perlu strategi pemulihan yang serius. Yang terjadi di antara dua sesi latihan sama pentingnya dengan latihannya sendiri.
Baca - Physical13 Juni 2026
Makan untuk Berlatih
Panduan nutrisi perempuan 40+ yang sedang persiapan race. Bukan diet. Bukan cutting. Ini tentang makan cukup untuk bisa bekerja keras.
Baca
Suka artikel ini?
Subscribe newsletter. Saya kirim setiap artikel baru langsung ke email kamu. Mingguan, tanpa spam.
Double opt-in: kamu akan dapat email konfirmasi dulu. Gratis, tanpa spam, berhenti kapan saja.