CC
CardioCapital
Kembali ke Artikel
Strategic

PT-ku Pikir Aku Sudah Siap Beban Berat

Tentang berbagi konteks dengan orang-orang yang bekerja sama dengan kita. Ada sesuatu yang aku pelajari di gym, yang ternyata adalah pelajaran karir paling penting di paruh kedua kehidupan.

25 Mei 2026

Senin pagi. Hari pertama haid. Hari pertama Phase 2 dari program latihanku. Hari pertama jadwal gym minggu ini.

PT-ku mengirim menu latihan untuk sore nanti. Aku membukanya di telepon, sambil duduk di mobil menemani keponakan tes masuk SMA. Dan aku diam sebentar.

Squat: 10 reps × 4 set, kettlebell 10 kilogram. Minggu lalu hanya 2 set.

RDL dumbbell: 10 reps × 4 set. Minggu lalu hanya 2 set.

Calf machine: 85 kilogram × 3 set. Minggu lalu 75 kilogram × 2 set.

Hip adduction: 75 kg, 85 kg, 95 kg dengan progresi naik. Tempo slow. Setiap repetisi terakhir tahan tiga detik.

Leg curl: 35 kilogram × 4 set. Minggu lalu hanya 3 set.

PT-ku menaikkan beban. Bukan sedikit. Naik signifikan.

Apa yang dia tidak tahu

Sabtu yang akan datang, aku ada time trial 5 kilometer. Sesi tes yang akan menentukan apakah empat minggu base building yang aku jalani benar-benar berbuah hasil.

Kalau aku menjalani leg day yang berat hari Senin ini, kakiku akan delayed onset muscle soreness, DOMS, selama 24 sampai 48 jam berikutnya. Berarti hari Rabu dan Kamis aku masih akan pegal. Mungkin sampai Jumat. Berarti time trial Sabtu akan aku jalani dengan kaki yang belum pulih.

Hasil time trial-nya akan menyesatkan. Datanya menjadi tidak akurat, bukan karena fitness sebenarnya, tapi karena fatigue dari gym.

Tapi PT-ku tidak tahu ada time trial Sabtu. Dia tidak punya kalender lariku. Dia hanya tahu satu hal: minggu lalu aku menjalani latihan moderate dengan mudah. Tidak ada keluhan. Tidak ada DOMS yang signifikan. Tidak ada tanda-tanda tubuh memberontak.

Dari sudut pandangnya, sangat masuk akal untuk menaikkan beban. Itu yang dia diajarkan dalam ilmu strength training: progressive overload. Tubuh adaptif. Stimulus harus terus naik supaya kemajuan terus terjadi.

Dia tidak salah. Dia hanya tidak punya konteks yang lebih besar.

Konteks itu tugas aku

Aku duduk di mobil. Mengetik pesan ke PT.

"Coach, Sabtu saya ada tes lari 5 kilometer. Plus hari ini hari pertama haid. Boleh kita turunkan bebannya hari ini? Saya mau menjaga kaki tetap fresh untuk Sabtu."

Beberapa menit kemudian, jawabannya datang. Tentu saja boleh. Dia kirim menu yang sudah dimodifikasi, beban yang sama dengan minggu lalu, fokus ke teknik dan stimulus moderate, tidak ada elemen baru yang DOMS-inducing.

Selesai. Lima menit pertukaran pesan, masalah selesai.

Tapi yang aku pikirkan sambil mobil terus berjalan adalah ini: berapa kali aku gagal melakukan ini dalam karir aku?

Berapa kali aku punya konteks penting di kepala, sesuatu yang akan mengubah keputusan kolega, vendor, partner, anggota tim, tapi aku tidak share-kan karena aku berasumsi mereka sudah tahu? Atau karena aku terlalu sibuk? Atau karena aku tidak ingin terlihat "butuh perhatian khusus"?

Orang yang bekerja sama dengan kita hanya melihat slice mereka

PT-ku melihat aku di gym. Itu slice yang dia punya.

Pelatih lariku melihat aku berlari. Itu slice yang dia punya.

Pelatih renang melihat aku di kolam. Itu slice yang dia punya.

Tidak satu pun dari mereka melihat keseluruhan kalender hidupku. Tidak satu pun yang tahu bahwa hari ini hari pertama haid, ngrowot dimulai lagi minggu depan setelah jeda untuk keponakan, time trial Sabtu, long run Minggu, zoom meeting penting Selasa yang mungkin mempengaruhi recovery.

Mereka tidak akan tahu, kecuali aku ceritakan.

Dan kalau aku tidak ceritakan, mereka akan membuat keputusan terbaik berdasarkan slice yang mereka punya. Yang dari sudut pandang mereka, sempurna. Tapi yang dari sudut pandang gambaran besar, sudut pandang yang hanya aku yang punya, bisa jadi disastrous.

Berbagi konteks adalah tugas aku. Bukan asumsi mereka.

Yang terjadi di dunia profesional

Aku berpikir tentang ini dalam konteks pekerjaan.

Sebagai profesional perempuan 40+, terutama yang pernah jadi senior leader, yang pernah memegang banyak proyek bersamaan, aku terbiasa menjadi "hub." Pusat informasi. Orang yang menyatukan banyak slice menjadi satu gambar utuh.

Tapi kebiasaan ini punya bahaya tersembunyi. Karena kita sudah biasa melihat seluruh gambar, kita sering lupa bahwa orang-orang di sekitar kita hanya melihat slice mereka.

Aku pernah marah ke kolega yang membuat keputusan yang menurutku "jelas salah." Tapi kalau aku jujur, dia tidak punya informasi yang aku punya. Yang "jelas" buat aku karena aku punya tiga konteks lain, sama sekali tidak jelas buat dia karena dia hanya punya slice-nya sendiri.

Aku pernah kecewa dengan vendor yang menyajikan proposal yang "meleset." Tapi kalau aku jujur, aku tidak pernah benar-benar share-kan konteks bisnis yang lebih besar. Aku berasumsi mereka sudah tahu. Mereka tidak tahu. Dan asumsi itu mahal.

Aku pernah heran kenapa pasangan, anak, orangtua tidak "membaca pikiran" tentang apa yang aku butuhkan. Tapi kalau aku jujur, aku tidak pernah benar-benar ceritakan dengan jelas apa konteksnya, kenapa hal ini penting, apa yang ada di kepala aku.

Semua orang ini, sama dengan PT-ku, hanya melihat slice mereka. Mereka bukan tidak peduli. Mereka hanya tidak tahu.

Kenapa kita tidak berbagi konteks

Aku berpikir tentang kenapa, sebagai perempuan 40+ yang sebenarnya komunikator yang capable, aku sering gagal berbagi konteks dengan orang-orang yang bekerja sama dengan aku.

Beberapa alasan yang aku temukan di diri sendiri:

Aku takut terlihat "butuh perhatian khusus." Memberi tahu PT bahwa aku haid hari ini terasa terlalu detail, terlalu personal, terlalu "perempuan yang berlebihan." Padahal itu konteks fisiologis yang sangat relevan untuk keputusan beban gym.

Aku berasumsi orang lain melihat apa yang aku lihat. Karena aku punya kalender keseluruhan di kepalaku, terasa "jelas" bahwa Sabtu ada time trial. Tapi tidak jelas buat orang yang tidak punya akses ke kepalaku.

Aku tidak ingin "merepotkan" orang lain dengan kompleksitas hidup aku. Aku ingin terlihat seperti orang yang "easy to work with", bukan orang yang punya banyak pertimbangan yang harus diakomodasi. Padahal yang aku sebut "merepotkan" itu sebenarnya cuma berbagi informasi yang membantu mereka melakukan pekerjaannya lebih baik.

Aku terbiasa menanggung beban menyatukan semuanya sendiri. Kebiasaan dari karir yang panjang sebagai senior leader. Tapi kebiasaan itu, di paruh kedua hidup, justru menjadi penghalang.

Yang harus aku latih

Setelah pertukaran pesan dengan PT-ku Senin itu, aku menulis catatan di telepon:

Sharing context is your job, not their assumption.

Aku ingin mengingatkan diri sendiri.

Mulai sekarang, setiap kali bekerja dengan PT, aku akan kasih dia kalender lariku setiap awal minggu. Bukan detail, hanya highlight: "Sabtu ada time trial, jadi Senin atau Selasa boleh berat, Rabu Kamis Jumat moderate." Lima menit komunikasi yang mencegah berhari-hari ketidakcocokan.

Mulai sekarang, setiap kali memulai proyek dengan vendor atau partner baru, aku akan dedicate sebuah meeting awal khusus untuk "konteks bisnis." Bukan brief teknis. Tapi gambaran yang lebih besar, kenapa proyek ini ada, apa yang penting buat kami, apa yang tidak terlihat dari deliverables tapi sangat mempengaruhi keputusan.

Mulai sekarang, setiap kali aku merasa kecewa atau frustrasi dengan keputusan orang lain, pertanyaan pertama yang aku tanyakan ke diri sendiri adalah: "Apakah dia punya konteks yang sama dengan aku?" Biasanya jawabannya: tidak. Dan biasanya, itu kesalahanku, bukan kesalahannya.

Yang sebenarnya kita bangun

Berbagi konteks bukan sekedar best practice untuk komunikasi efektif.

Berbagi konteks adalah cara kita menghormati orang-orang yang bekerja sama dengan kita. Memberi mereka kemampuan untuk membuat keputusan yang baik. Memberi mereka akses ke informasi yang akan membuat pekerjaan mereka lebih efektif.

Dan berbagi konteks adalah cara kita menghormati diri sendiri. Mengakui bahwa kita layak untuk diakomodasi. Bahwa kondisi tubuh kita di hari tertentu adalah informasi yang relevan, bukan "keluhan yang berlebihan." Bahwa kalender hidup kita yang kompleks itu adalah kenyataan yang perlu diintegrasikan dalam pekerjaan, bukan disembunyikan.

PT-ku Senin sore itu memberi aku menu yang sempurna untuk situasi aku. Bukan menu yang dia kirim pagi tadi. Tapi menu yang dia kirim setelah aku ceritakan apa yang sebenarnya sedang aku jalani.

Dia tidak berubah jadi PT yang lebih baik dalam lima menit. Dia tetap PT yang sama, dengan ilmu yang sama. Yang berubah adalah dia akhirnya punya konteks yang dia butuhkan untuk membantu aku dengan lebih tepat.

Dan aku akhirnya punya kebiasaan baru yang akan aku bawa pulang ke semua relasi profesional aku yang lain.

Untuk kamu yang juga sering menanggung sendiri

Kalau kamu juga perempuan 40+ yang sering jadi hub di banyak proyek, di banyak relasi, kamu mungkin punya kebiasaan yang sama dengan aku: menyatukan semua konteks di kepala sendiri, lalu berasumsi orang lain bisa baca pikiranmu.

Mereka tidak bisa.

Dan keputusan-keputusan yang "salah" yang mereka buat, sering bukan karena mereka tidak kompeten atau tidak peduli. Tapi karena mereka tidak punya konteks yang kamu punya.

Tugas kamu, dan ini tugas yang membebaskan, bukan menambah beban, adalah memberi mereka konteks itu.

Bukan supaya mereka membuat keputusan yang persis sama dengan yang kamu inginkan. Tapi supaya mereka punya informasi yang mereka butuhkan untuk membuat keputusan yang baik.

Lima menit pesan singkat ke PT.

Satu meeting awal yang khusus untuk konteks.

Satu kalimat tambahan ke kolega: "Sebelum kita lanjut, ada satu hal yang perlu kamu tahu..."

Itu compound juga. Pelan-pelan, konsisten, hari demi hari. Sampai semua relasi profesional kita berjalan dengan informasi yang lengkap, dan keputusan yang dibuat selalu adalah keputusan terbaik yang bisa dibuat dengan informasi tersebut.

Pelan-pelan. Konsisten. Compound.

Begitu juga denganmu.


Health compounds. Wealth compounds. You compound.

Cardio Capital. Untuk perempuan yang membangun sambil berlari pelan.

Suka artikel ini?

Subscribe newsletter. Saya kirim setiap artikel baru langsung ke email kamu. Mingguan, tanpa spam.

Double opt-in: kamu akan dapat email konfirmasi dulu. Gratis, tanpa spam, berhenti kapan saja.