Sombong atau Sadar Diri?
Mengapa perempuan harus berhenti minta maaf untuk kompetensinya. Tentang refleks yang kita warisi, Sindrom Hehe, dan kenapa menyatakan fakta tentang diri sendiri bukan sombong tapi sadar diri.
Tadi pagi aku menyebut salah satu pencapaianku dalam sebuah percakapan. Bukan untuk pamer. Bukan untuk mengesankan siapa pun. Hanya karena relevan dengan topik yang sedang dibahas.
Dan hal pertama yang keluar dari mulutku setelahnya adalah: "Maaf ya kalau terdengar sombong."
Refleks. Otomatis. Seperti menambahkan "hehe" di akhir chat agar tidak terkesan terlalu serius. Seperti menurunkan volume suara saat menyebut gelar, pengalaman, atau prestasi, agar orang lain tidak merasa terancam. Supaya kita tidak terlihat "berlebihan."
Aku berhenti. Dan bertanya pada diriku sendiri: sejak kapan menyatakan fakta tentang diri sendiri menjadi sesuatu yang harus dimaafkan?
Refleks yang Kita Warisi
Perempuan Indonesia, mungkin perempuan di mana pun, dibesarkan dengan kode tak tertulis tentang bagaimana seharusnya kita berbicara tentang diri sendiri. Rendah hati. Tidak menonjolkan diri. Membiarkan orang lain yang memuji. Kalau ditanya tentang pencapaian, jawab dengan "ah, biasa saja" atau "belum seberapa."
Kode ini punya nama yang terdengar mulia: kerendahan hati. Dan dalam banyak konteks, kerendahan hati memang indah. Tidak ada yang suka orang yang terus-menerus memamerkan dirinya.
Tapi ada perbedaan besar antara rendah hati dan menyembunyikan diri.
Rendah hati adalah mengetahui bahwa pencapaianmu tidak membuatmu lebih baik daripada orang lain. Menyembunyikan diri adalah berpura-pura bahwa pencapaianmu tidak ada, karena takut dihakimi, takut dibilang sombong, takut membuat orang lain tidak nyaman.
Yang pertama adalah kebijaksanaan. Yang kedua adalah penghapusan diri.
Apa yang Sebenarnya Kita Takuti?
Coba pikirkan: kapan terakhir kali kamu mendengar seorang laki-laki minta maaf setelah menyebutkan jabatannya? Setelah menceritakan proyeknya? Setelah menjelaskan keahliannya?
Jarang. Mungkin tidak pernah.
Tapi perempuan? Kita melakukannya setiap hari. Kita minta maaf sebelum presentasi. Kita menambahkan disclaimer sebelum menyampaikan pendapat. Kita bilang "mungkin ini cuma pandanganku ya" sebelum mengatakan sesuatu yang sebenarnya kita tahu benar.
Yang kita takuti bukan dinilai salah. Yang kita takuti adalah dinilai "terlalu." Terlalu percaya diri. Terlalu ambisius. Terlalu vokal. Terlalu banyak mengambil ruang.
Jadi kita mengecilkan diri. Kita minta maaf. Kita tambahkan "hehe" di akhir kalimat yang seharusnya kuat. Dan pelan-pelan, tanpa sadar, kita mengajarkan diri kita sendiri bahwa kompetensi kita adalah sesuatu yang perlu disembunyikan.
Fakta Bukan Sombong
Ada perbedaan mendasar antara dua kalimat ini:
"Aku paling hebat di bidang ini dan tidak ada yang bisa menandingi."
"Aku sudah bekerja di bidang ini selama dua puluh tahun dan punya pengalaman yang relevan."
Yang pertama adalah arogansi. Yang kedua adalah pernyataan fakta.
Tapi bagi banyak perempuan, keduanya terasa sama bahayanya. Karena kita sudah dilatih untuk tidak membedakan antara menyatakan kompetensi dan menyombongkan diri. Semua bentuk "bicara tentang diri sendiri" terasa seperti pelanggaran.
Padahal bukan.
Menyatakan bahwa kamu punya gelar yang kamu perjuangkan bertahun-tahun, itu bukan sombong. Itu adalah menghargai investasimu sendiri. Menyebutkan bahwa kamu pernah memimpin proyek, mengelola tim, menulis laporan yang dibaca pengambil kebijakan, itu bukan pamer. Itu adalah menyatakan apa yang kamu bawa ke meja.
Dan kalau kamu tidak menyatakannya, siapa yang akan?
Sindrom Hehe
Aku menyebutnya Sindrom Hehe.
Itu adalah kebiasaan menambahkan pelembut di setiap pernyataan yang terasa terlalu kuat, terlalu serius, atau terlalu percaya diri. Supaya terasa lebih ringan. Supaya tidak mengganggu. Supaya orang lain tidak merasa terancam oleh kekuatan kita.
"Aku baru dapat penghargaan internasional, hehe."
"Aku diundang jadi pembicara, tapi ya biasa aja sih hehe."
"Direktur perusahaan besar baca tulisanku, hehe aneh ya."
Perhatikan: "hehe" itu bukan tanda kerendahan hati. Itu adalah tanda bahwa kita tidak nyaman dengan kekuatan kita sendiri. Bahwa kita merasa perlu meminta izin kepada dunia untuk menjadi kompeten.
Kita tidak perlu izin itu.
Sadar Diri Itu Superpower
Ada kata yang lebih tepat dari "sombong" untuk apa yang sebenarnya sedang terjadi ketika seorang perempuan menyatakan kompetensinya: sadar diri.
Sadar diri adalah tahu apa yang kamu bisa. Tahu apa yang sudah kamu lewati. Tahu nilai dari pengalaman yang kamu kumpulkan selama bertahun-tahun, di lapangan, di ruang rapat, di malam-malam sendirian mengerjakan sesuatu yang tidak ada yang lihat.
Sadar diri bukan berarti kamu pikir kamu sempurna. Justru sebaliknya. Orang yang sadar diri tahu kelemahannya juga. Tapi mereka tidak membiarkan kesadaran akan kelemahan itu menghapus kesadaran akan kekuatan.
Dan di usia kita, di paruh kedua, setelah semua yang sudah kita jalani, kalau kita masih tidak bisa menyatakan dengan tenang apa yang kita bisa, maka siapa yang akan percaya bahwa kita bisa?
Untuk Anak Perempuan yang Menonton
Ini bukan hanya soal kita. Ini soal siapa yang menonton.
Anak-anak perempuan yang melihat ibunya, tantenya, gurunya, bosnya minta maaf setiap kali menyebut pencapaian, mereka belajar. Mereka belajar bahwa kompetensi perempuan adalah sesuatu yang harus disembunyikan. Bahwa kekuatan perempuan adalah sesuatu yang membuat orang lain tidak nyaman. Bahwa ruang untuk perempuan hanya cukup kalau kita mengecilkan diri.
Ketika kita berhenti minta maaf untuk kompetensi kita, kita tidak hanya membebaskan diri sendiri. Kita memberi izin kepada generasi berikutnya untuk berdiri dengan penuh: tanpa disclaimer, tanpa pelembut, tanpa "hehe."
Latihan Kecil
Minggu ini, coba ini:
Ketika seseorang bertanya tentang pekerjaanmu, jawab dengan fakta. Tanpa menambahkan "ah, biasa aja." Tanpa menurunkan volume suara. Tanpa "hehe."
Kalau kamu punya gelar, sebutkan. Kalau kamu punya pengalaman dua puluh tahun, katakan. Kalau kamu menulis sesuatu yang dibaca orang-orang penting, akui bahwa itu terjadi dan bahwa itu adalah hasil kerja keras.
Perhatikan bagaimana rasanya. Mungkin tidak nyaman. Mungkin ada suara di dalam yang bilang: "Ini terlalu banyak. Ini berlebihan."
Abaikan suara itu. Itu bukan suaramu. Itu suara dunia yang belum siap melihat perempuan menempati ruang yang sepenuhnya milik mereka.
Sombong atau Sadar Diri?
Jawabannya sederhana.
Kalau kamu menyatakan sesuatu yang tidak benar tentang dirimu untuk mengesankan orang lain, itu sombong.
Kalau kamu menyatakan sesuatu yang benar tentang dirimu karena itu relevan, karena itu penting, karena itu adalah hasil dari tahun-tahun kerja keras dan pengorbanan, itu sadar diri.
Dan sadar diri adalah hak setiap perempuan yang sudah membayar harganya.
Jadi berhenti minta maaf. Berhenti menambahkan "hehe." Berhenti mengecilkan suaramu supaya orang lain merasa nyaman.
Kamu sudah cukup rendah hati. Sekarang saatnya cukup berani.
Health compounds. Confidence compounds. You compound.
Cardio Capital. Untuk perempuan yang berhenti minta maaf.
Artikel terkait
- Strategic5 Juni 2026
Plan adalah Hipotesis
Tentang rencana latihan 16 minggu yang tidak satupun mingguannya berjalan sesuai rencana. Dan kenapa itu justru tanda plan yang sehat.
Baca - Strategic26 Mei 2026
PhD di Belanda, di Usia yang 'Salah'
Bulan Mei ini, beberapa tahun yang lalu, saya lulus doktor di usia yang dunia bilang sudah terlambat. Tentang fieldwork sendirian, compound effect dari proses yang tidak ada shortcut-nya, dan kenapa tidak ada usia yang salah untuk investasi yang benar.
Baca - Strategic25 Mei 2026
PT-ku Pikir Aku Sudah Siap Beban Berat
Tentang berbagi konteks dengan orang-orang yang bekerja sama dengan kita. Ada sesuatu yang aku pelajari di gym, yang ternyata adalah pelajaran karir paling penting di paruh kedua kehidupan.
Baca
Suka artikel ini?
Subscribe newsletter. Saya kirim setiap artikel baru langsung ke email kamu. Mingguan, tanpa spam.
Double opt-in: kamu akan dapat email konfirmasi dulu. Gratis, tanpa spam, berhenti kapan saja.